Isu Psikologis dalam Perilaku Kepatuhan Perawatan Diri (Self-care) terkait Diabetes Mellitus dan Kualitas Hidup
Oleh
L. M. Karisma Sukmayanti Suarya
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit metabolisme yang menuntut adanya manajemen diri terkait penyakit bagi individu yang didiagnosis DM. ini terjadi karena pada kondisi DM, kadar gula darah secara berlebih menumpuk di dalam darah karena pankreas tidak cukup memproduksi hormon insulin untuk memetabolisme glukosa dalam darah, atau tubuh lagi merespon insulin secara normal (Sarafino & Smith, 2011; Taylor, 2012). Selain itu, kondisi DM menimbulkan dampak bagi individu yang mengalaminya dengan dua alasan yakni reaksi emosional karena mengalami penyakit tersebut sepanjang hidup, serta mewajibkan adanya penyesuaian pola hidup terkait penyakit DM (Brannon, Feist, & Updegraff, 2013) Oleh karena itu, kadar gula darah yang terkendali atau level rata-rata merupakan tujuan penting yang dapat dilakukan melalui manajemen diri terkait diabetes mellitus yang meliputi pengobatan, pengaturan pola makan atau diet, berolahraga dan pengecekan gula darah secara rutin atau berkelanjutan (Brannon, Feist, & Updegraff, 2013; Taylor, 2012).
Perilaku perawatan diri merujuk pada kepatuhan perilaku secara mandiri yang dimunculkan oleh individu dengan DM dalam mengelola pola makan, melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan memantau kadar gula darah. Hal ini merepresentasikan adanya pengalaman dan pilihan individu dalam kehidupan sehari-hari untuk mengelola kondisinya (Puzhakkal, Kavanagh, Conway, Kow, & Hasan, 2025). Manajemen atau perilaku perawatan diri terkait DM yang dilakukan secara berkelanjutan, dibutuhkan bagi individu dengan DM. Beberapa studi menunjukkan bahwa perilaku perawatan diri terkait DM yang baik berkaitan dengan kualitas hidup individu dengan DM (Artini dam Irawan AM, 2025; Derang, Sigalingging, Samosir, 2024; Nasution, Lubis, Girsang, Sekali, 2026; Saragih, Simanullang, Karo, 2022; Sari dan Nurhayati, 2021)
Dalam rangka dialaminya kualitas hidup yang baik pada individu dengan DM, melalui perawatan diri DM yang dilakukan secara disiplin dan berkesinambungan, dibutuhkan adanya kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan pola hidup antara sebelum dan sesudah didiagnosis DM. Namun nyatanya, disiplinnya menjalani perawatan diri terkait DM dapat menjadi tantangan bahkan mungkin cenderung tak mudah untuk dijalani bagi sebagian orang dengan DM. Tidak hanya berhenti sampai pada tercapainya kadar glukosa darah rata-rata, namun dialaminya kualitas hidup yang lebih baik adalah poin utama yang penting untuk diperhatikan.
Isu psikologis Kepatuhan Perawatan Diri, dan Diabetes mellitus Tipe 2
Kepatuhan dalam perawatan diri penyakit kronis merupakan isu penting yang dikaji melalui beragam metode penelitian, dalam rangka pengembangan pengetahuan maupun rekomendasi intervensi secara holistik bagi individu, dalam hal ini DM tipe 2. Jika individu dengan DM tipe 2 tidak patuh dalam perilaku perawatan diri, maka akan berdampak pada meningkatnya risiko komplikasi dari DM, mempengaruhi rencana perawatan terkait diagnosis klinis, dan biaya layanan kesehatan yang dikeluarkan menjadi kurang efektif (Gurung, 2013; Kazarian & Evans, 2001).
Diketahui ada beberapa variabel yang berkaitan dengan kepatuhan diantaranya karakteristik individu, hubungan antara pasien dan pemberi layanan kesehatan, karakteristik penyakit, aturan pengobatan/perawatan dari penyakit yang dialami (Kazarian & Evans, 2001). Sedangkan respon psikologis yang muncul saat awal diagnosis penyakit kronis, yang juga berdampak terhadap rendah atau lemahnya perilaku kepatuhan adalah reaksi penyangkalan (denial). Respon psikologis penyangkalan dalam waktu yang cukup panjang, akan berdampak terhadap lambatnya individu untuk melaporkan kondisi kesehatannya, termasuk dalam mencari bantuan kesehatan (Gurung, 2013). Oleh karena itu, penting untuk mengetahui dan memahami isu-isu psikologis yang dapat menjadi faktor fasilitator ataupun faktor penghambat dalam perilaku kepatuhan perawatan, khususnya DM tipe 2.
Beberapa faktor yang diketahui menjadi prediktor kepatuhan perawatan diri DM tipe 2 diantaranya efikasi diri, kecemasan, distress psikologis terkait diabetes, rasa takut mengalami hipoglikemia (Rana, Kumar, Kant, 2022), pengetahuan terkait DM, sikap, motivasi, dukungan keluarga, efikasi diri (Hijriana, Chairunnisa, Mardhiah, 2024; Sekardiani, Swarjana, Satriani, Megayanti, 2023). Efikasi diri sebagai salah satu faktor psikologis yang secara konsisten berkaitan positif dengan perilaku kepatuhan perawatan diri terkait DM (Babazadeh, Lotfi, Ranjbaran, 2023; Cahyani, Fatimah, Rosyida, 2024; Zatihulwani, Putra, Ana, 2026), bahkan cenderung tingginya efikasi diri dapat mendorong perilaku perawatan diri terkait DM yang lebih baik (Chindankutty & Devineni, 2022)
Kesimpulan
Tanpa mengenyampingkan kontribusi penting dari dimensi fisiologis, sosial budaya, maupun peran faktor demografi yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan perawatan diri khususnya DM tipe 2, tulisan ini ingin menyampaikan secara sederhana mengenai isu psikologis yang berkaitan dengan perilaku kepatuhan perawatan tersebut. Yang tentunya menunjukkan bahwa faktor psikologis dari individu dengan DM tipe 2 adalah komponen yang wajib dalam perawatan secara holistik, dengan tujuan dialaminya kualitas hidup yang lebih baik bagi indvidu dengan DM tipe 2.
Referensi
Artini, K. S., Irawan AM, A. (2025). Hubungan self-care terhadap kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research. Vol. 10, No. 3, pg. 279- 289. https://doi.org/10.26714/jkj.12.2.2024.305-314
Brannon, L., Feist, J., Updegraff, J. A. (2013). Health psychology; an introduction to behavior and health. USA: Cengage Learning
Chindankutty, N. V., Devineni, D. (2022). Self-Efficacy and Adherence to Self-Care Among Patients With Type 2 Diabetes: A Systematic Review. Journal of Population and Social Studies (JPSS). https://doi.org/10.25133%2FJPSSv312023.015
Derang, I., Sigalingging, V. Y. S., Samosir, K. L. (2024). Hubungan self-care dengan kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2. Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Vol. 12, No. 2. https://doi.org/10.26714/jkj.12.2.2024.305-314
Gurung, R. A. R. (2014). Health psychology: A cultural approach (3rd ed). Wadsworth Cengage Learning.
Hijriana, I., Chairunnisa., Mardhiah, A. (2024). Journal of Healtcare Technology and Medicine. Vol. 10, No. 2
Kazarian, S.S., Evans, D. R. (2001). Handbook of cultural health psychology. Academic Press: USA
Nasution, S. L. R., Lubis, W. A., Girsang, E., Sekali, A. K. (2006). The correlation between self-care and quality of life in type 2 diabetes mellitus patients at the sei rampa health center. Contagion: Scientific Periodical of Public Health and Coastal Health. Vol. 8 (1). pg. 35-46. http://dx.doi.org/10.30829/contagion.v8i1.26529
Puzhakkal, S., Kavanagh, S., Conway, B., Kow, C. S., Hasan, S. S. (2025). Self-care and self-management in diabetes: concepts, theories, and practices. International Journal of Clinical Pharmacy. Vol. 47 (6), pg. 2094-2100. doi. https://doi.org/10.1007/s11096-025-01941-z
Rana, D., Kumar, R., Kant, R. (2023). Psychological Predictors of Adherence to Self-Care Behaviour amongst Patients with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) Visiting Public Hospital, North India. Vol 26, No. 6, pg. 558-564. https://doi.org/10.4103/ijem.ijem_116_22
Taylor, S. E. (2012). Health psychology. (Ninth edition). New York: McGraw Hill.
Sarafino, E. P., Smith, T. W. (2011). Health psychology; biopsychosocial interaction. (Seventh Edition). USA: John Willey& Sons.
Saragih, H., Simanullang, M. S. D., Karo, L. F. Br. (2022). Hubungan self care dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Vol. 8, No.2. https://doi.org/10.52943/jikeperawatan.v8i2.1001
Sari, N. A., Nurhayati, C. (2021). Nurse and Health: Jurnal Keperawatan. Vol. 10, No.2, pg. 343-349. https://doi.org/10.26714/jkj.12.2.2024.305-314
Sekardiani, N. L. P., Swarjana, I. K., Satriani, N. L. A., Megayanti, S. D. (2023). Vol. 21, No. 2, pg. 51-55. https://doi.org/10.30595/medisains.v21i2.18663
Stroebe, W. (2000). Social psychology and health. (Second edition). USA: Open University Press
Syaipuddin, Suhartatik, harkas, Y., Nurbaya, S. (2025) Efektifitas dukungan sosial dan keluarga terhadap peningkatan kualitas hidup pasien DM tipe 2 di wilayah kerja puskesmas Pampang kota Makassar, Vol.3, No. 1, hal. 33-46. DOI: https://doi.org/10.59024/jikas.v3i1.1152
Zatihulwani, E. Z., Putra, K. W. R., Ana, K. D. (2026). Psychosocial and interpersonal factors influencing diabetes self-management: the roles of self-efficacy, psychological stress, family support, and healthcare communication. Nurse and Holistic Care Journal. Vol 6, No. 1. https://doi.org/10.33086/nhc.v6i1.8725



FACULTY OF MEDICINE