OPTIMALISASI SGD DALAM MENDUKUNG PERFORMA AKADEMIK MAHASISWA
Oleh: Putu Yoga Sukma Pratama, M.Psi., Psikolog
Student centered learning (SCL) merupakan pendekatan dalam proses belajar yang kini diterapkan dalam sistem pendidikan. “Kekuasaan” utama dalam pendekatan ini bergeser dari pengajar ke peserta didik. Proses pembelajaran yang disusun lebih mengutamakan aktivitas yang dapat meningkatkan tanggung jawab dari pembelajar. Menjadikan pembelajar sebagai sumbu utama dalam proses belajar dapat meningkatkan keterlibatan pembelajar. Pendekatan ini memberikan ruang yang luas bagi pembelajar. Para pembelajar dapat mengeksplorasi relevansi topik-topik yang dibahas dengan kehidupan, kebutuhan, dan minat mereka. Eksplorasi semakin tampak saat mereka secara aktif terlibat dalam menciptakan, memahami, dan menghubungkan pengetahuan (McCombs & Whistler, 1997). Dengan kata lain, pembelajar dapat menjadi co-creator dalam proses pembelajaran tersebut.
Pembelajar tidak lagi duduk dan menerima informasi saja, tetapi benar-benar terlibat di dalam proses belajar itu sendiri. Hal ini melatih keterampilan pembelajar di kehidupan sehari-hari dan profesionalnya. Paradigma SCL ini berakar dari konsep teori belajar, utamanya Perkembangan Kognitif dari Vygotsky. Menurut Vygotsky, individu dapat memperoleh pengetahuan, keyakinan, dan strategi pemecahan masalah melalui interaksi (McLeod, 2020). Melalui adanya interaksi yang menyeluruh, terlebih melibatkan individu yang lebih berpengalaman, dapat membawa individu melampaui kemampuan bawannya. Hal ini dikenal dengan istilah Zone of proximal development (ZPD).
Mengacu pada teori Vygotsky dan konsep ZPD tersebut, peran fasilitator, sebagai individu yang lebih berpengalaman, menjadi penting. Proses pembelajar yang dilakukan, mengharuskan fasilitator untuk melibatkan pembelajar dalam pengambilan keputusan tentang topik yang sedang dipelajari serta mengakomodasi perbedaan individu dalam latar belakang, minat, kemampuan, dan pengalaman peserta didik (McCombs & Whistler, 1997). Pengajar berfokus pada penyusunan tugas-tugas otentik dan nyata yang memotivasi keterlibatan dan partisipasi peserta didik (Weimer, 2002). Bagi penulis, paradigma ini dapat memberikan “nyawa” bagi pembelajar dalam proses belajar itu sendiri. Hal ini bisa memicu curiosity dan juga internalisasi konsep dalam diri pembelajar itu sendiri. Melihat pentingnya metode SCL ini, banyak sekolah dan perguruan tinggi yang menerapkan model pembelajaran ini.
Metode ini telah dirasakan manfaatnya di Pendidikan tinggi Eropa bahwa metode SCL dapat mengembangkan kompetensi yang mereka butuhkan di pasar kerja yang berubah dan akan memberdayakan pembelajar untuk menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab (Attard, Di Ioio, Geven, & Santa, 2010). Di Indonesia, terdapat beberapa instansi Pendidikan yang sudah menerapkan metode pembelajaran SCL. Menurut Nadjamuddin & Norken (dalam Kurdi, 2009) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Udayana sudah menerapkan metode pembelajaran SCL. Beberapa sekolah kedokteran lainnya di Indonesia juga banyak menerapkan metode ini. Secara umum, Penerapan SCL dalam sekolah kedokteran sangat penting, karena untuk menciptakan tenaga medis yang handal. Perguruan tinggi yang menyediakan jurusan kedokteran, menyadari bahwa mencetak seorang dokter yang handal tidak hanya terpaku pada pengajaran ilmu biomedis saja, tetapi juga mengembangkan clinical skill yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat ini (Amin & Eng, 2003). Hal ini telah menjadi urgensi yang disampaikan oleh World Health Organization (WHO) dan The Network: Towards Unity for Health untuk menghasilkan pekerja kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dibidang kesehatan (Amin & Eng, 2003).
Salah satu upaya yang diterapkan adalah memfasilitasi SCL melalui small group discussion (SGD). SGD memfasilitasi proses belajar siswa melalui pembagian mahasiswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Biasanya, satu kelompok kecil terdiri dari empat sampai dengan sepuluh mahasiswa di dalamnya yang secara bersama-sama mendiskusikan materi yang akan dipelajari (Amin & Eng, 2003). Bekerja dalam lingkup kelompok di satu sisi dapat memudahkan penyelesaian masalah, namun pada sisi lainnya dapat memicu terjadinya penurunan motivasi individu karena kehadiran orang lain dalam kelompok. Penelitian menemukan bahwa penurunan motivasi individu saat berada dalam kelompok juga terjadi di setting Pendidikan (Rosyidah, Meiyuntariningsih, & Ramadhani, 2022; Oktrivia & Maryam, 2021; Pratama, 2018). Oleh karenanya, social loafing perlu diantisipasi kemunculannya agar tidak mengganggu produktifitas tim, terutama dalam proses SGD ataupun setting kelompok kerja. Perlu beberapa pertimbangan dalam mengantisipasi kemunculan social loafing dalam kelompok. Hal ini penting tidak hanya bagi pengajar/dosen, tetapi juga internal pembelajar/mahasiswa dalam membangun SGD yang kondusif dan optimal. Berikut adalah beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan.
1. Jumlah anggota kelompok
Terdapat beberapa pandangan terkait jumlah anggota kelompok yang ideal dan kaitannya terhadap performa kelompok dan juga individu dalam kelompok. Robbins & Judge (2013) menyatakan bahwa tim yang efektif umumnya memiliki anggota berjumlah 5 sampai dengan 9 anggota, sedangkan Davis, Millburn, Murphy, & Woodhouse (1992) menyatakan bahwa kelompok yang efektif adalah kelompok yang memiliki anggota tidak lebih dari 15 orang. Slater (dalam Shaw, 1981) menambahkan bahwa jumlah anggota kelompok yang optimal adalah lima orang. Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, penulis menyarankan membentuk SGD dengan jumlah 5-7 orang. Hal ini perlu disesuaikan dengan faktor tipe tugas dan juga relevansi goals kelompok. Semakin bisa terangkul semakin mudah menginternalisasi goals kelompok pada individu dalam SGD.
2. Tipe tugas yang dikerjakan
Terdapat jenis tugas menurut Steiner (dalam Shaw, 1981), yaitu additive task, disjuntive
task, conjunctive task.
a. Additive task merupakan tugas yang hasil akhirnya merupakan kombinasi dari usaha dari masing-masing anggota kelompok. Jika kelompok mendapatkan jenis tugas ini, maka semakin banyak anggota tim, semakin memadai. Misalnya, lomba tarik tambang, membersihkan rumah, memanen hasil kebun.
b. Disjunctive tasks merupakan tugas yang hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh performa anggota kelompok yang paling berkompeten/ahli. Jika kelompok mendapat jenis tugas seperti ini, maka penambahan anggota kelompok perlu didasari pada keahlian yang dibutuhkan untuk memecahkan tugas. Misalnya, pemecahan masalah/teka-teki atau tugas yang berkaitan dengan pengambilan keputusan spesifik.
c. Conjunctive task merupakan tugas yang mengharuskan semua anggota kelompok menyelesaikan tugas tersebut dan performa tergantung pada performa dari anggota kelompok yang paling tidak kompeten. Jika kelompok mendapat jenis tugas seperti ini, maka penambahan anggota kelompok tidak direkomendasikan, terlebih anggota tersebut tidak kompeten. Contohnya adalah assembly line, tugas yang berkaitan dengan estafet atau kecepatan.
3. Relevansi Goals kelompok dan goals personal
Mengacu pada Collective Effort Model (CEM), ada dua faktor yang menentukan tingkat motivasi anggota kelompok, yaitu ekspektasi mengenai mencapai tujuan dan value dari tujuan itu sendiri (Forsyth, 2010). Motivasi mencapai titik maksimu ketika anggota SGD berpikir bahwa tujuan bisa diraih dan memandang tujuan itu sangat berharga. Motivasi akan berkurang jika ekspektasi anggota kelompok rendah atau individu tidak memberikan nilai pada tujuan kelompok.
Teori ini sebetulnya membutuhkan peran dari fasilitator atau dosen untuk bisa memberikan signifikansi pada tugas yang diberikan. Bagaimana keterkaitan tugas terhadap kehidupan mahasiswa (atau bahkan kehidupan professional nanti) perlu menjadi pengantar yang persuasive dari dosen selaku sumber informasi yang berpengalaman. Selanjutnya mahasiswa dapat menginternalisasi value atau makna dari tugas yang dikerjakan dan juga membagi tugas tersebut berdasarkan keselarasan dengan nilai personal di setiap anggota.
Misalnya, dalam tugas penyusunan proposal penelitian kuantitatif, diskusikan bersama-sama hingga semua anggota memiliki persepsi yang sama bahwa tujuan tugas bisa dijangkau/diselesaikan. Tahap berikutnya, SGD dapat membagikan tugas sesuai dengan nilai personal dari setiap anggota. Contohnya, bagian analisis dapat diberikan pada individu yang sangat menyukai statistika. Hal ini dapat meningkatkan keterlibatan dan performa anggota.
Beberapa pertimbangkan tersebut dapat diterapkan oleh dosen/pengajar/fasilitator dan juga mahasiswa dalam proses SGD.
Referensi:
Amin, Z., & Eng, K. H. (2003). Basics in medical education. Singapore: World Scientific Publishing.
Attard, A., Di Ioio, E., Geven, K., & Santa, R. Student centered learning: An insight into theory and practice. Bucharest: Education International.
Davis, J., Millburn, P., Murphy, & Woodhouse. (1992). Successful team building: How to create teams that really work. London: Kogan Page.
Forsyth, D. R. (2010). Group dynamics, 5th.ed. Canada: Wadsworth, Cengage Learning.
Kurdi, F. N. (2009). Penerapan student centered learning dan teacher centered learning mata ajar ilmu kesehatan pada Program Studi Penjaskes. Forum Kependidikan, 28(2), 108-113.
McLeod, S. (2020) Vygotsky’s sociocultural theory of cognitive development. Simply Psychology. Retrieved from https://www.simplypsychology.org/vygotsky.html
Laal, M. & Ghodsi, S.M. (2012). Benefit of collaborative learning. Procedia, Social and Behavioral Sciences 31. 486 – 490. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2011.12.091.
Pratama, P.Y.S. & Wulanyani, N.M.S. (2018). Pengaruh kuantitas, kemampuan komunikasi interpersonal, dan perilaku altruisme anggota kelompok terhadap social loafing dalam proses diskusi kelompok di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Jurnal Psikologi Udayana, 5(1). https://doi.org/10.24843/JPU.2018.v05.i01.p18
Oktrivia, R. J., & Maryam, E. W. (2021). Social Loafing On Students Of Muhammadiyah University Sidoarjo: Sosial Loafing Pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Academia Open, 5, 10.21070/acopen.5.2021.2135. https://doi.org/10.21070/acopen.5.2021.2135
Robins, S. R., & Judge, T. A. (2013). Organizational behavior 15th Edition. United States: Pearson.
Shaw, M. E. (1981). Group Dynamics The Psychology of small group behavior 3rd edition. United States of America: McGraw-Hill Book Company.
Rosyidah, E., Meiyuntariningsih, T., & Ramadhani, H.R. (2023). Social loafing pada mahasiswa: Bagaimana peranan self-efficacy dan kohesivitas kelompok?. Inner: Journal of Psychological Research, 2(3), 395–404. Retrieved from https://aksiologi.org/index.php/inner/article/view/710
McCombs, B. & Whistler, J. (1997). The learner centered classroom and school: Strategies for increasing student motivation and achievement. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.
Weimer, M. (2002). Learner-centered teaching: Five key changes to practice. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.



FACULTY OF MEDICINE